KTNA Garut Ajak Pemerintah Putus Mata Rantai Bandar, Petani Baru Bisa Sejahtera

Berita238 Dilihat

SUARA GARUT – Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Garut, H Endang Solihin, mengatakan, sejauh ini kesejahteraan petani di Kabupaten Garut yang jumlahnya sekitar 5000 kelompok tani belum merata.

Dikatakannya, sejauh ini posisi tawar para petani masih kalah dari para bandar. Bandar menjadi penentu harga, karena mereka dianggap sebagai dewi fortuna oleh para petani.

“Antara bandar dan petani itu memang masalah klasik. Cuma saya lihat kebijakan pemerintah dalam bantuan permodalan, terutama perbankan itu masih agak sulit dalam pemberian kredit, maka salah satu penolong utama selama ini yang paling terdepan bagi para petani adalah para bandar,” katanya, ditemui di Bazar Hari Krida di Pendopo Kabupaten Garut, Jumat, 4 Agustus 2023.

Disebutkannya, walaupun keuntungan bandar lebih besar dari petani, namun para petani menyadari hal tersebut dan itu dianggap wajar. 

Baca Juga:Herfiza Novianti Terisak Ceritakan Perjalanan Cinta dengan Ricky Harun, Apa Saja 3 Tanda Jodoh Menurut Islam?

Para petani berpikir daripada tidak ada keuntungan sama sekali dan sulit menjualnya, akhirnya peran bandar jadi pilihan.

“Bisa saja petani lepas dari para bandar, syaratnya adanya terobosan dari pemerintah, yaitu bantuan permodalan,” katanya.

Disebutkannya, nasib petani di Garut ini makin repot, sebab bantuan pupuk subsidi dikurangi oleh pemerintah. Yang masih mendapat pupuk subsidi itu hanya petani yang menanam padi, jagung, kedelai  bawang, cabai, dan tanaman kakau. Selain komoditi tersebut tidak ada subsidi.

“Tidak adanya pupuk subsidi ini tentu keuntungan makin kecil, apalagi petani sayuran sangat tertekan, karena komoditinya juga mudah layu dan busuk,” katanya.

Karenanya, sebagai Ketua KTNA Garut, ia berharap adanya terobosan bantuan permodalan untuk bisa memutus mata rantai penjual supaya tidak terlalu panjang

Baca Juga:Sudah Nggak Butuh Uang Jajan, Lolly Sebut Sudah Tak Dibiayai Nikita Mirzani

Disebutkannya, mata rantai penjualan itu ada 7 item yakni bandar, calo, pasar induk, pasar kabupaten/kota, pedagang kaki lima, baru ke konsumen.

“Semua itu memperoleh keuntungan dari hasil jerih payah para petani,” katanya.

Dikatakannya, andai distribusinya tidak terlalu panjang, karena mata rantainya sebagian dipangkas, maka keuntungan bagi para konsumen jatuhnya harga akan lebih murah dan keuntungan petani lebih besar. (*)

Editor: Firman

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *